BERJUMPA ALLAH SWT DALAM SHALAT
Seorang pengamat yang cerdik dan seorang seniman yang pengamat maupun seorang filosof, selama dalam dirinya bersemi benih iman, maka mereka akan memandang bahwa keindahan itu terdapat dalam gerak-gerik; gerak hati dalam kelembutan cinta, gerakan yang lembut dalam kesungguhan ibadah serta gerakan otak dalam berfikir dan gerakan nafas dalam berdzikir. Maka dapat kita saksikan betapa indahnya gerakan orang yang sedang mendirikan shalat sebagai tanda cinta, menunjukkan kesungguhan ibadah, memperlihatkan arah pikiran menuju Pusatnya, serta upaya mewujudkan dzikir hanya kepada Dzat yang dicintainya, Allah SWT.
Getaran hatinya seirama dengan gerakan badan, senada dengan ucapan lisan. Gerak yang teratur, tertib dan berirama mengikuti setiap denyutan jantung dan tarikan nafas. Siapa yang tak akan terpesona menyaksikan keindahan gerak terpadu dari seorang hamba yangsedang bertawajuh dengan Rabbnya. Manifestasi cintanya berwujud dalam kepatuhan menghadapkan wajah dan hatinya kepada Rabbnya. Dengan khusyu’ dan tadarru’ ia menemui Allah SWT dalam waktu-waktu yang telah ditentukan oleh-Nya. (Q.S. An-Nisaa’ : 103).
Shalat merupakan sarana menghilangkan rasa duka cita dan kesulitan-kesulitan, mempermudah rezeki, penarik dan penolong kebaikan, sumber tumbuhnya kasih sayang serta kunci kesehatan dan keselamatan.
Maka barangsiapa yang selalu menjaga dan memeliharanya ia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Shalat juga merupakan teman dalam kesunyian.
Shalat adalah ketentraman dalam hati, ketenangan dalam jiwa dan penolong sendi-sendi kehidupan. Maka dengan shalat seorang mukmin terbentengi di dunia dan terjaga dari godaan syetan, shalat merupakan tiang dien, kunci mendekatkan diri kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya.
Bagi umat Islam, shalat merupakan buah tangan Rasulullah SAW dalam mi’raj beliau menghadap Allah SW. Begitu penting kedudukan shalat dalam Islam hingga Allah sendiri Langsung memanggil Rasul-Nya untuk menerima perintah shalat ini.
Shalat merupakan puncak dzikir seseorang pada Allah. Di dalam shalat terangkum semua jenis dzikir; mulai dari dzikir gerak, lisan, qalbi dan cahaya.
Shalat juga adalah suatu puncak komunikasi hamba dengan Rabbnya. Shalat juga adalah puncak manifestasi penyerahan diri dan kecintaan hamba kepada Khaliknya.Sebagai pertanda keyakinan seorang hamba bahwa ia akan kembali kepada-Nya.
Manusia berjumpa dengan Allah lewat shalat secara langsung, oleh kare itu Rasulullah mengingatkan manusia agar menjaga akhlaknya ketika mendirikan shalat.
Islamlah yang pertama-tama mengintegrasikan shalat dengan kehidupan sehari-hari. Shalat merupakan perbuatan rohaniah dan jasmaniyah.
Shalat, mencerminkan suatu dinamika kehidupan yang harus ditempuh manusia untuk mencapai kesejahteraan..
Proses kehidupan yang dilalui dengan jatuh bangun, sujud dan tersungkur itu harus dimulai manusia dengan Meng-Akbarkan Allah (hikmah takbiratul ihram) dan diakhiri dengan menyebarkan keselamatan dan kesejahteraan (Salam) diantara manusia.
Oleh karena itulah Nabi menegaskan akan pentingnya shalat berjamaah, karena shalat bukan hanya semata mengandung ajaran ibadah vertikal (hablum minallah) namun ia juga membawa dampak horizontal (hablun minannaas).
Shalat wajib lima kali sehari semalam yang dilakukan secara berjamaah merupakan manifestasi penyerahan diri individu dan masyarakat kepada kehendak Allah.
Secara kodrati, manusia itu tidak sama; mereka hanya menemukan kesamaan itu dikala menyerahkan diri kepada kehendak Allah, dan karena itu mereka turun ke tingkat yang sama. Selesai mendirikan shalat, mulailah kembali manusia melakukan tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk melaksanakan amar ma’ruf, nahi munkar (Q.S. Ali ‘Imran : 110).
Hakikat Shalat ialah:"Suatu perjuangan mencapai kebahagiaan yang dimulai dengan meng-Akbarkan Allah, lalu dijalani secara istiqamah (konisten) dalam menghadapi berbagai kondisi, seperti berdiri ruku’,sujud, dan duduk yang kemudian diakhiri dengan Salam "
Kita harus meng-Akbarkan Allah dalam setiap keadaan hidup yang dihadapi, susah, senang, lapang maupun sempit. Sampai akhirnya kita memperoleh kedudukan / maqam yang selamat atau bahagia, sehingga kita bisa pula menyelamatkan dan membahagiakan orang di sekitar kita. Maka dengan mendlami hakekat shalat tahulah kita bahwa praktek shalat merupakan miniatur kehidupan manusia. (Q.S. At-Taubah : )
Oleh karena itu dapatlah kita hayati mengapa panggilan shalat itu ada kalimat yang berbunyi : "Hayya ‘Alash Shalah" (marilah mendirikan shalat) yang kemudian diringi dengan "Hayya ‘Alal Falaah." (marilah merebut kebahagiaan).
Dengan demikian tak akan ada kemenangan dan kebahagiaan yang hakiki yang dapat diraih tanpa mendirikan shalat, dan setiap kebahagiaan harus digapai dengan perjuangan dan kesabaran serta pengorbanan. (abu rahma).
Sumber:http://suaradinamika.atspace.com/nikmatnya_shalat.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan kritik dansaran yang sesuai dan tidak unruk menjatuhkan penulis.